Break Your Limit
Pernahkah Anda
mendengar perkataan; “Bumi ini cukup melimpah bagi semua umat manusia, namun
tidak cukup bagi satu orang yang tamak”? Memang tamak adalah kerakusan yang tak
bertepi. Tentang hal ini ada yang berpendapat bahwa tamak adalah sikap, dan
bukanlah sifat. Apabila kita memperhatikan sekeliling kita, tidak orang yang
terlahir dengan sifat bawaan tamak. Pergaulan hiduplah yang membuatnya tamak.
Adam dan Hawa diciptakan sesuai gambar
dan rupa Allah. Namun, karena bergaul dengan ular yang jahat dan merespon
terhadap bujukannya, merekapun menjadi tamak. Padahal betapa Sang Pencipta
telah bermurah hati kepada mereka. Dia mengaruniakan seluruh bumi beserta taman
Eden yang indah dan permai. Semua pohon boleh dimakan buahnya–kecuali pohon
pengetahuan yang baik dan yang jahat. Namun, Adam dan Hawa bersikap tamak. Apa
yang bukan menjadi hak mereka, justru mereka ambil. Mereka memilih untuk
mengikuti kemauan mereka sendiri dan menolak batasan yang ditetapkan oleh
Tuhan.
Bukankah ini sering
terjadi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya? Sikap tamak sering kali
membuat kita tidak pernah merasa cukup. Bahkan sekalipun saat kita mungkin
sudah memiliki semuanya. Kita terus menuntut lebih banyak lagi, padahal Tuhan
sudah memberkati kita dengan berkelimpahan. Tak seorangpun dari kita mau
disebut tamak, oleh sebab itu periksalah hati kita sekarang sebab disanalah
ketamakan itu bisa bersarang.
Refleksi:
1.
Apakah
masih ada ketamakan dalam diri Anda? Dalam hal apa sajakah itu?
2.
Pantaskah
jika Anda menuntut lebih banyak lagi, padahal Anda sudah menerima berkat yang
berlimpah dari Tuhan? Jelaskan alasan Anda!
Praktek: Keserakahan membelenggu
Anda – karenanya belajarlah berbagi dan berkata cukup pada diri Anda sendiri!
Comments
Post a Comment
Shalom... Silahkan bagikan kesaksian Saudara dari apa yang Saudara dapatkan melalui perenungan hari ini. Tuhan Yesus memberkati.